HARMONI BUDAYA DI MAKAM SUNAN GUNUNG JATI


MEDIA SANTRI - Sebagai salah satu anggota Wali Songo, Sunan Gunung Jati dikenal luas atas strategi dakwahnya yang mengedepankan akulturasi dan toleransi. 


Jejak pendekatan kultural tersebut masih dapat kita saksikan hingga hari ini melalui ornamen piring keramik khas Tiongkok yang menghiasi dinding kompleks pemakamannya. Kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon tidak hanya berdiri sebagai situs ziarah yang menyimpan jejak dakwah Wali Songo, tetapi juga menyajikan pesona keindahan arsitektur yang unik. 


Berbeda dari makam para wali lainnya, dinding-dinding di kawasan ini dihiasi oleh ribuan piring keramik bernilai sejarah tinggi. Keramik-keramik tersebut hadir dalam berbagai motif dan ukuran yang tersusun rapi di tembok-tembok kompleks makam. Selain piring keramik, terdapat pula guci bermotif di area sekitar makam. 


Kehadiran ornamen ini mengisahkan sejarah panjang Cirebon sebagai jalur perdagangan laut internasional, sekaligus mengabadikan kisah pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien (Nyimas Rara Sumanding).


Keramik-keramik di kompleks makam ini dipercaya merupakan cendramata yang dibawa langsung oleh Putri Ong Tien dari Tiongkok. Ketika berlayar ke Jawa untuk menikah dengan Sunan Gunung Jati, sang putri memboyong tujuh kapal yang memuat berbagai barang berharga, termasuk ribuan keramik dan guci khas Dinasti Ming. Keramik-keramik inilah yang kemudian dipasang di tembok pemakaman sebagai bentuk estetika seni, kenang-kenangan, serta penghormatan untuk mengenang Putri Ong Tien.


Hubungan erat ini tak lepas dari peran Cirebon pada abad ke-15 dan ke-16 sebagai kota pelabuhan besar yang ramai dikunjungi pedagang dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok. Berada di pesisir utara Jawa, Cirebon menjadi simpul penting dalam jaringan pelayaran strategis antara Timur dan Barat. 


Penemuan kapal karam Dinasti Song pada tahun 2005 di laut Cirebon yang memuat lebih dari 230.000 artefak berupa keramik dan uang logam menjadi bukti kuatnya hubungan dagang masa lalu. Perdagangan global inilah yang membawa pengaruh budaya asing melebur dengan tradisi lokal. Menariknya, keramik di kompleks makam tidak hanya berasal dari Tiongkok, tetapi ada pula yang dari Eropa.


Pada akhirnya, Kompleks Makam Sunan Gunung Jati menjadi simbol nyata dari akulturasi budaya serta perpaduan arsitektur antaretnis dan agama. Keberadaan ornamen Tiongkok di tengah arsitektur Islam-Jawa menunjukkan betapa terbukanya Kesultanan Cirebon terhadap dunia luar. Hal ini merefleksikan nilai toleransi dan keluhuran strategi dakwah yang diwariskan oleh Sunan Gunung Jati dalam merangkul keberagaman.


Penulis : Musyarofah, S. Pd. 

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama