Intisari Mau'idhotul Khasanah KH. Nasrul Arif Abdurrahman


MEDIA SANTRI - Tantangan zaman saat ini sudah semakin berat, berbeda dengan zaman dahulu. Saat ini kita menghadapi zaman yang sudah serba canggih. 


Seperti dapur-dapur yang kompornya jarang hidup, karena lebih mudah pesan makanan lewat Gofood, Shopee food, atau grab food yang lebih praktis dan murah. Makan makanan-masakan sendiri itu memang lumayan rekoso, sebab perlu ngupas bawang, mengosreng-ngosrengnya, dll. Tapi hal itulah yang kemudian menjadi berkah. 


Di tengah tantangan zaman saat ini, maka anak-anak kita harus diberikan landasan agama yang kuat. Salah satunya adalah dengan dimasukkan ke pondok, tapi jangan berarti diniati kuliah sambil mondok. 


Jangan sampai mondok/ngaji dibuat sampingan, harus diniati "Yo Ngaji Yo Sekolah", "Yo Sekolah Yo Ngaji." 


Keduanya harus seimbang, jangan hanya mementingkan kuliah dan mengesampingkan mondok. Keduanya harus sama-sama diutamakan dan dipentingkan, jangan hanya salah satunya. Ilmu umum itu penting, tapi pengetahuan tentang agama itu wajib.


Kegiatan yang ada di pondok harus dilaksanakan sebaik-baiknya, begitupun dengan kegiatan di kampus. Kalau ada kegiatan kampus yang tidak bisa ditinggalkan, maka paling tidak harus izin ke Kyai. Jangan dipikir kuliah ada tugas/kegiatan, lalu pondok diabaikan. 

 Keduanya harus seimbang, agar bisa mendapatkan ilmu dan barokah.


 Karena mencari barokah itu sulit, sebab barokah itu tidak bisa dicari, hanya bisa ditirakati. Barakahnya ilmu, senajan ten pondok ngaose mboten pate mudeng, tapi ketika benar-benar ikhlas menjalani semua kegiatan di pondok, Alhamdulillah Insyaallah angsal berkah guru dan kyai. 


Jangan sampai mengenyampingkan barakah, kita harus mencari barokah itu. Caranya yaitu dengan manut kepada guru, mengikuti apa yang dikatakan guru. Senajan neng pondok ngajine ora mudeng, tapi Insyaallah di rumah akan ada manfaatnya. Karena barakah tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan.


Wonten hadis, sing artine,  

 "Barangsiapa pergi ke masjid atau pergi pagi-pagi buta, entah itu untuk mengaji atau mengajarkan ilmu, akan diberikan pahala seperti pahala orang yang berhaji."


•>Jadi misal sehari mengaji 3 kali, sama halnya dengan melakukan haji 3 kali. Luar biasa MaasyaAllah pahala orang yang mengaji.


Terus wonten hadis malih, sing artine...


 "Wahai Ibnu Mas'ud, duduklah kamu paling lamanya satu jam. Tidak perlu membawa bulpen, tidak perlu menulis senajan sak huruf. Itu lebih baik bagimu daripada memerdekakan seorang budak."


(•> tapi nak kangge santri, yo harus menulis. Sebab bedane jin kalih manusia, iku nak jin tidak mau menulis, tapi nak manusia masih ada yang mau menulis. Maka dari itu, kita diajari guru kita, disuruh ngapsahi kitab ben tidak sama dengan jin)


Lanjutan hadis Ibnu Mas'ud ...

"Wahai Ibnu Mas'ud, melihat ke arah wajah orang alim itu lebih baik bagimu daripada shodaqoh 1000 kuda yang kamu sumbangkan untuk membantu agama Allah." 


(•> Menawi nate angan-angan bade shodaqoh, atau punya cita-cita (niat) untuk melakukan kebaikan. Karena melase Gusti Allah, apa yang diniatkan itu sudah mendapatkan ganjaran. Apalagi sampai terealisasikan, maka pahalanya akan dilipatgandakan menjadi 10).


Lanjutan hadis Ibnu Mas'ud malih ...

"Uluk salam mareng wong alim itu lebih baik bagimu daripada melakukan ibadah 1000 tahun."


(•>Ibadah di sini, ditafsiri saking ulama niku maksude ibadah-ibadah sunah, seperti puasa dan solat sunah. _Salam atau menjawab salam kyai saja pahalanya sudah besar apalagi kalau mau sampai mengaji)_ 


•> Kalau ngaji, nanti jika menjadi pemimpin insyaallah bakal amanah. Karena santri sering bergaul dengan ulama, insyaallah jadi orang yang amanah. 


•> Pelajaran yang bisa menjadikan orang yang memiliki takwa kepada Allah yakni pendidikan agama Islam. Jadi jangan sampai putra-putri njenengan sudah ada di pondok, tapi orang tua tidak mau mengaji. 


•> Kita harus mendekat dengan kyai, tolabul ilmu, nyuwun nasihat kepada orang alim, agar mau mengaji. 


# Orangtua dan jimat bagi anaknya. 

•> Orang tua itu jimatnya anak. Jika anak masih punya Bapak Ibu, diderek temenanan. Nak wes seda, ditiliki kuburane, dibacakan tahlil, didoakan, syukur-syukur dishodaqohi. Kalau tidak bisa tahlil, baca Al-Fatihah. Nak tidak bisa Al-Fatihah, baca sholawat. 


•> Investasi orang tua yaiku anak sing Sholih Sholihah, kalau sudah meninggal dan punya anak Sholeh itu bisa menjadi pahala di alam kubur. 


•> Kados hadis sing nyebutke, menawi anak Adam seda, mboten kepedot ganjarane kecuali shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholih yang mau mendoakan. 


 •> Iling nggih, aja ngaji digawe sampingan. Yen Ngaji Yo kuliah, Kuliah Yo ngaji. Keduanya harus seimbang, karena keduanya menjadi pegangan hidup, terlebih lagi di akhirat."


Tabiik,


Penulis : Musyarofah

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama